Selasa, 24 September 2013

SOAL UH1

SOAL ULANGAN HARIAN 1
KELAS IX
SMP NEGERI 1 SILAU LAUT
BY:  TUMBUR SIMANGUNSONG
Jawablah pertanyaan berikut ini dan jawabannya kirimkan ke email saya di stumbur@yahoo.com
 
Perbuatlah hal-hal yang baik bagi sekelilingmu!!!
  1. Jelaskan proses pembuatan urine. 
  2. Gambar dan jelaskan sistem ekskresi pada kulit. 
  3. Hati dapat berfungsi sebagai alat sekresi dan ekskresi. Apa perbedaan sekresi dan ekskresi pada hati? 
  4. Tuliskan penyakit yang terjadi di hati dan bagaimana cara pencegahannya. 
  5. Kita sering mendengar orang terkena sakit ginjal, seperti batu ginjal, gagal ginjal, dan radang ginjal.  Bagaimana cara mengatasi dan mencegah penyakitpenyakit tersebut?
  6. Sebutkan fungsi plasenta. 
  7. Jelaskan proses spermatogenesis pada laki-laki. 
  8. Apa yang dimaksud dengan ovulasi? Tulis jawaban pertanyaan di bawah ini di buku kerjamu. 
  9. Apa yang kamu lakukan jika di sekitar tempat tinggalmu ada orang yang mengidap AIDS? 
  10. Jelaskan cara pencegahan terhadap virus HIV.
"GOOD LUCK"

Selasa, 22 Januari 2013

UAS


UJIAN AKHIR SEMESTER .
TAHUN 2012

Nama                     : Tumbur Simangunsong
Mata Kuliah         : Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan
Program Studi      : Teknologi Pendidikan
Fakultas                                : PASCASARJANA UNIMED
Dosen                     :  l. Prof. Dr. Sahat Siagian,  M.Pd
                                  2. Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd
 

Jawaban :
           
1.        Apakah perencanan pelatihan diawali dengan analisis kebutuhan pelatihan?   Kalau  ya bagaimana analisis kebutuhan pelatihan tersebut dilakukan. Kalau tidak apa komentar anda.

Jawab : TIDAK, kebanyakan lembaga diklat di lingkungan Kementerian Pendidikan belum melakukan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, salah satunya di Kantor Dinas Pendidikan. Hal ini terlihat dari kurangnya minat pegawai untuk mengikuti diklat, sehingga berdampak pada hasil dari  program pelatihan, bahkan setiap kegiatan pelatihan selalu tidak berjalan sesuai program. Ini menjadi catatan bagi lembaga/instansi penyelenggara pendidikan dan pelatihan supaya kegiatan analisis kebutuhan dijadikan rujukan bahkan patokan bagi penyelenggara dalam menyusun dan melaksanakan program pelatihan, sehingga program pelatihan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran.
Implementasi program Training tidak sepenuhnya dilakukan berdasarkan Training Plan, tapi dilakukan  atas dorongan situasi tertentu yang biasanya berdasarkan permintaan dan keinginan dari pihka-pihak tertentu (want), dan bukan berdasarkan kebutuhan (Needs)

Pada umumnya analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah masih sebatas mencari data dan informasi pegawai yang berminat mengikuti pelatihan, belum melaksanakan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, yang sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang maksimal, pelaksanaan analisis kebutuhan harus berdasarkan konsep/teori
Analisis kebutuhan pelatihan (training need analysis) merupakan langkah awal dari fungsi perencanaan dalam manajemen pelatihan untuk menentukan kebutuhan pelatihan yang dirasakan perlu dan mendesak oleh suatu lembaga/instansi. Apabila proses penentuan kebutuhan pelatihan dilakukan dengan cermat dan detail, maka program pelatihan akan berjalan dengan baik dan tujuan pelatihan dapat tercapai seperti yang diharapkan. Analisis kebutuhan pelatihan (training need analysis) direncanakan dan dilaksanakan untuk memperoleh sejumlah data atau informasi tentang kondisi dan kebutuhan pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Analisis kebutuhan membantu organisasi maupun individu dalam mencari solusi masalah untuk meningkatkan kinerja. Oleh karena itu analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan sebelum pelaksanaan pelatihan haruslah melibatkan tiga kegiatan analisis yaitu analisis organisasi, analisis kinerja dan analisis individu.
Analisis kebutuhan pelatihan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat kompetensi pegawai demi mencapai tujuan (goals and objectives) yang mengarah pada peningkatan kinerja pegawai. Analisis kebutuhan pelatihan dilakukan sebelum program pelatihan dirancang. Analisis kebutuhan pelatihan adalah suatu investigasi sistematis mengenai deskrepansi kinerja untuk menggambarkan kesenjangan, menetapkan mengapa itu terjadi, dan memutuskan apakah pelatihan merupakan solusi potensial

2.        Aspek-aspek apakah yang dilakukan berkaitan dengan perencanaan pelatihan? Teknik perencanaan yang seperti apa yang diterapkan? Apa komentar anda

Jawab :
  1. Aspek analisis kebutuhan pelatihan.
Tahapan awal program pelatihan adalah mengadakan analisis kebutuhan (needs assessment) secara komperhensif yang berkaitan dengan strategi bisnis. Informasi yang dihasilkan analisis tersebut diantaranya dapat digunakan untuk menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari observasi yang telah dilakukan ditemukan bahwa banyak lembaga yang sudah melakukan analisis kebutuhan gagal mengkaitkannya dengan rencana strategi . Hal ini mengartikan bahwa pada tahapan awal sebagai fondasi program pelatihan perusahaan gagal memperoleh informasi yang relevan. Dengan demikian terdapat semacam celah (gap) antara isi (content) program dengan kebutuhan (needs) perusahaan sesuai dengan rencana strategisnya.

3. Berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan, aspek-aspek apakah yang perlu dipantau (dimonitor) dan dengan teknik apa monitoring dilakukan. Apa komentar anda.
Jawab:
a.      Aspek teknis pelaksanaan program /penggunaan metode pelatihan.
Sering kali pelatihan ditawarkan pada karyawan tidak dalam pola just-in-time. Kebanyakan pelatihan dilakukan secara classroom-based dimana karyawan dijadwal ke dalam sesi one-day atau multiple-day. Metode pelatihan seperti ini diyakini menghasilkan celah meluas antara saat karyawan mengikuti pelatihan dan saat mereka mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat kerja. sebagai contoh misalnya pelatihan tentang total quality management (TQM). Karena terlalu sering mengikuti pelatihan TQM tanpa diikuti rencana atau tindak lanjut bagaimana mereka dapat mengaplikasikan SKA baru di tempat kerja, yang terjadi malahan adalah degradasi pembelajaran (learning degradation) bahkan penolakan serta keengganan karyawan. Mereka merasa dengan pelatihan tersebut tidak membawa manfaat hanya karena metode pelaksanaan yang tidak mendorong karyawan segera mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat kerjanya.
b.      Aspek course content yang tidak sesuai dengan kebutuhan individu atau unit kerja.
Manajer lini sangat jarang terlibat dalam perancangan pelatihan atau dalam menyelesaikan pelatihan terhadap persyaratan spesifik individu atau unit kerja. Akibatnya adalah sedikit manajer yang melihat pelatihan secara efektif dalam mengatasi masalah-masalah pekerjaan atau dalam memperbaiki kinerja karyawan. Dulworth & Shea menemukan fakta bahwa dalam analisis kebutuhan untuk pelatihan suatu perusahaan content pelatihan yang disusun tidak disesuaikan dengan individu atau unit kerja yang akan dilatih. Sebagai contohnya dalam salah satu sesi pelatihan untuk traders yang mensyaratkan pengetahuan rinci tentang subjek tertentu memperoleh content pelatihan sama dengan posisi sebagai akuntan yang hanya membutuhkan basic understanding tentang konsep keuangan.
c.       Aspek program pelatihan berkaitan dengan metode penyampaiannya (training delivery methods) yang bersifat statis dan biasanya hanya menggunakan satu metode yaitu classroom instruction. Guna memenuhi persyaratan waktu dan biaya untuk pelatihan berbasis kelas, banyak manajer yang akhirnya enggan menilaipelatihan sebagai suatu kegiatan positif bagi karyawan mereka. Sayangnya dengan metode pelatihan kelas sejauh ini merupakan pilihan yang paling popular dalam penggunaanya. Popularitas ini memiliki alas an yang mendasar yaitu adanya keyakinan bahwa classroom delivery method mampu menghasilkan greatest skill and knowledge enhancement.
d.      aspek fakta yang menunjukan bahwa dampak (impact) pelatihan baik bagi individu maupun organisasi tidak diukur dengan cara yang sistematis. Acap dilupakan bahwa hasil pelnelitian memiliki dampak terukur (measurable) pada empat tingkatan yaitu reaksi (rection), pembelajaran (learning), perilaku (behavior), dan hasil (result). Studi Dulworth & Shea menunjukan bahwa banyak organisasi hanya mengukur salah satu tingkatan yaitu reaksi, sementara tiga tingkatan lainnya diabaikan. Pengabaian ini pada akhirnya mengarah pada a lack of hard data, dimana perusahaan tidak memiliki informasi konferhensif tentang hasil pelatihan secara toatal. Hal ini tentu saja menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan untuk mengajukan bagaimana efektifitas pelatihan dapat diketahui baik pada individual maupun organisasional.
e.      Aspek sarana pendukung (job aids)
untuk membantu karyawan untuk mengaplikasikan apa yang telah dipelajarinya dari pelatihan tidak secara berkala diberikan. Kebanyakan manajer pelatihan hanya berpikir bagaimana ilmu pengetahuan dapat ditransformasikan secara efektif, sementara petunjuk bagaimana ilmu tersebut diterapakan banyak diabaikan. Sebagian besar dari mereka hanya mengasumsikan bahwa transfer ilmu pengetahuan sudah cukup bagi karyawan untuk memperbaiki kinerja sedangkan jika persoalan di luar pelaksanaan pelatihan bukan tanggung jawab mereka.

4.  Berkaitan dengan evaluasi program pelatihan, aspek-aspek apakah yang perlu dievaluasi dan bagaimana teknik evaluasi program dilakukan. Apa komentar anda
ü  KONTEKS
ü  INPUT
ü  PROSES IMPLEMENTASI
ü  PRODUK

5.   Berkaitan dengan evalusi program pelatihan, untuk menilai aspek-aspek 
yang diperlukan, model evaluasi apakah yang digunakan ?








SELAMAT BEKERJA

Senin, 17 Desember 2012

RENCANA JUDUL TESIS


  • Perancangan Dan Implementasi Interactive E-Learning Menggunakan Video Mata Pelajaran Ipa SMP
  • Hubungan Antara Kedisiplinan Dan Pelatihan Dengan Kinerja Guru SMP se-Kabupaten Asahan
  • Kontribusi Supervisi Pengawas Sekolah Dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru Pada SMP Negeri Se-Kabupaten Asahan

Chapter Review


CHAPTER REVIEW
Oleh : Tumbur Simangunsong
Chapter IV.
KOMPONEN PENTING
PENGARUH TIK DALAM PENGEMBANGAN GURU

Ketika sebuah universitas, guru satuan pendidikan, negara, wilayah atau negara mengadopsi atau menyesuaikan satu set standar untuk menentukan bagaimana teknologi akan ditanamkan sepanjang program mereka, menjadi sangat penting bahwa upaya fakultas dalam perencanaan program pendidikan guru termasuk di dalamnya. Fakultas akan merencanakan TIK dalam pengembangan guru dengan mempertimbangkan kondisi mereka sendiri, budaya, dan konteks. Selama ini kolaboratif tahap perencanaan, unit pendidikan guru dan unit universitas lain yang menyediakan kursus untuk pre-service guru (yaitu calon guru) harus mengembangkan rencana yang tidak hanya menangani empat komponen kunci dalam kerangka kerja, tetapi juga elemen yang mendukung implementasi jangka panjang dari kepemimpinan komponen-key dan visi, konteks dan budaya, perencanaan dan manajemen perubahan, dan seumur hidup belajar. Unsur-unsur yang diperlukan untuk lingkungan yang mendukung dan sukses, mandiri implementasi teknologi dalam infus guru program pendidikan.
Pengalaman telah menunjukkan bahwa beberapa kondisi penting harus dipenuhi untuk berhasil mengintegrasikan TIK ke dalam program pendidikan guru. Sebagai pendidikan entitas telah menerapkan TIK dalam pendidikan guru peneliti, dan evaluator memiliki hambatan yang teridentifikasi yang mencegah atau membatasi infus teknologi sukses. Guru pendidik mengekspresikan frustrasi dengan menyatakan, "Saya mengalami masalah menerapkan rencana kami untuk infus TIK karena ... "Pernyataan seperti ini sering diselesaikan oleh satu atau lebih kondisi yang cukup umum di kalangan pendidikan guru institusi di seluruh dunia. ISTE telah menyusun daftar yang paling umum diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk kuat dikutip kondisi menggunakan teknologi.
Ketika merencanakan untuk implementasi TIK dalam pendidikan guru, perencanaan Tim harus mempertimbangkan setiap kondisi penting dan perhatikan apakah, dan untuk sejauh mana, itu hadir. Konteks, budaya, dan tingkat kolaborasi
antara para pemangku kepentingan akan mempengaruhi seberapa memadai kondisi terpenuhi dan menentukan apa jenis strategi mungkin meminta dukungan jika kondisi esensial saat ini tidak hadir. Masing-masing kondisi diperiksa di bagian ini.

Bersama Vision
Didefinisikan sebagai adanya kepemimpinan proaktif dan dukungan administrasi, visi bersama berarti bahwa komitmen untuk teknologi sistemik. Dari administrasi kepada personil alasan, ada pemahaman, komitmen untuk, dan rasa advokasi untuk implementasi teknologi. Ketika pelaksanaan inisiatif teknologi bermasalah, alasan utama yang sering dikutip gangguan dalam pemahaman umum tujuan lembaga di antara mereka yang memegang kekuasaan pengambilan keputusan. Situasi ini dapat terjadi atas sesuatu yang sederhana seperti membuka pintu ke laboratorium, atau serumit memodifikasi ada anggaran operasional untuk menyediakan alokasi dana untuk teknologi. Memfasilitasi integrasi teknologi mungkin memerlukan perubahan dalam kebijakan atau aturan, dan pengambil keputusan harus bersedia untuk melihat situasi, menempa kompromi bila diperlukan, dan memastikan komunikasi di antara semua pihak. Itu lingkungan kolaboratif yang diperlukan untuk menciptakan visi bersama juga diperlukan untuk mempertahankan visi tersebut.

Mengakses
Fakta bahwa pendidik perlu akses ke teknologi saat ini, perangkat lunak, dan jaringan telekomunikasi tampak sederhana. Namun, akses ini harus konsisten di semua lingkungan yang merupakan bagian dari persiapan guru. Program pendidikan guru yang paling melibatkan beberapa entitas, termasuk setidaknya perguruan tinggi atau universitas dan satu atau lebih sekolah di kisaran 12-P. Akses ke pendanaan dan sumber daya lainnya dapat sangat bervariasi di antara mitra, namun idealnya, akses harus memadai dan konsisten sepanjang pengalaman pendidikan siswa dalam proses menjadi guru. Kemitraan kreatif sering diperlukan untuk membuat hal ini terjadi.
Selain itu, perlu ada akses ke teknologi yang sesuai dengan subjek daerah sedang dipelajari, seperti program pengolah kata dan akses internet dalam bahasa Inggris, atau laboratorium komputer dan mikroskop untuk laboratorium sains. Akses harus dalam kelas serta pengaturan laboratorium, dan ketentuan harus dibuat untuk populasi khusus. Teknologi ini harus dapat diakses segera ketika itu adalah yang terbaik rute ke informasi atau alat-alat yang dibutuhkan oleh pre-service guru, guru, dan siswa. Selain itu, ruang kelas model universitas penting untuk menentukan teknologi cara harus digunakan dalam lingkungan-12 P. Harus ada menjadi stasiun instruktur dengan sistem presentasi dan 4-6 stasiun untuk pra-layanan guru. Para calon guru perlu melihat dan mengalami model yang menunjukkan jenis akses yang diinginkan di dalam kelas.
Selain akses ICT di kursus mereka, pre-service guru harus memiliki akses teknologi dalam lingkungan pengajaran mereka mahasiswa dan dalam kelas mereka pada tahun induksi dan seterusnya. Jika tidak, peluang untuk menggunakan teknologi alat untuk mengajar siswa atau alat komunikasi untuk mentoring atau tetap terhubung dengan orang tua akan terbatas.

Pendidik Terampil
Para pendidik yang bekerja dengan calon guru harus terampil dalam penggunaan teknologi untuk belajar. Mereka harus mampu menerapkan teknologi dalam presentasi dan administrasi kursus mereka dan memfasilitasi penggunaan yang tepat dari teknologi dengan mereka guru calon. Dari kursus pertama diambil oleh mahasiswa, melalui kolaboratif bekerja di lokasi sekolah, pre-service guru harus berpartisipasi dengan dan mengamati mereka mentor menggunakan teknologi secara efektif. Para pendidik guru harus memberi contoh dan mengajarkan teknik untuk mengelola teknologi di kelas dan untuk berkomunikasi di luar kelas melalui sarana elektronik.

Pengembangan Profesional
Bahkan dalam konteks di mana pengembangan profesional yang luas, penting untuk menyediakan akses yang konsisten untuk pengembangan profesional sebagai teknologi terus-menerus perubahan. Peluang berkelanjutan untuk pengembangan profesional harus tersedia untuk fakultas universitas dan P-12 dan administrator yang berpartisipasi dalam persiapan guru. Tempat dan mekanisme pengiriman harus memperhitungkan pertimbangan masalah waktu, lokasi, jarak, pilihan kredit, dan sebagainya. Pengembangan profesional bukanlah peristiwa satu kali itu harus difokuskan pada kebutuhan dosen, guru, atau administrator dan dipertahankan melalui pembinaan dan update secara berkala.

Bantuan Teknis
Pendidik perlu bantuan teknis untuk menggunakan dan memelihara teknologi. Fokus dari dosen, guru, dan guru pre-service harus pada pengajaran dan pembelajaran, bukan pada pemeliharaan dan perbaikan teknologi di luar prosedur pemecahan masalah dasar. Ketika teknologi tidak berfungsi dengan baik, kesempatan belajar hilang dan frustrasi fakultas tumbuh. Bantuan teknis yang tepat waktu sangat penting bagi fakultas dan calon merasa yakin bahwa mereka dapat menggunakan teknologi dalam pengajaran dan pembelajaran. Ada banyak cara bantuan teknis dapat diperoleh, termasuk meminta masyarakat anggota atau asisten mahasiswa untuk mempertahankan help desk. Ini merupakan faktor penting untuk Keberhasilan dalam menerapkan TIK.

Standar Isi dan Sumber Daya Kurikulum
Pendidik harus berpengetahuan dalam isi, standar, dan pengajaran metodologi disiplin ilmu mereka. Calon guru harus belajar untuk menggunakan teknologi  nology di kuat, cara yang berarti dalam konteks isi pengajaran. Teknologi membawa sumber daya yang relevan dari dunia nyata untuk konten mata pelajaran, menyediakan alat untuk menganalisis dan mensintesis data, dan menyampaikan konten melalui berbagai media dan format. Pra-service guru harus belajar untuk menggunakan teknologi dengan cara yang memenuhi standar isi dan standar teknologi bagi siswa dan guru.

Siswa-Centred Pengajaran
Mengajar harus mencakup pendekatan yang berpusat pada siswa untuk belajar. Teknologi tidak boleh digunakan hanya sebagai alat untuk demonstrasi, sebagai elektronik overhead projector atau papan, melainkan penggunaan teknologi oleh siswa harus menjadi bagian integral dari instruksi. Dalam pendekatan yang berpusat pada siswa untuk belajar, siswa menjadi sumber masalah diselidiki. Mahasiswa dan calon guru harus memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menggambar kesimpulan, dan menyampaikan hasil menggunakan alat elektronik untuk menyelesaikan tugas ini. Fakultas harus model penggunaan TIK untuk menunjukkan kegunaannya dan kesesuaian untuk kolaborasi, akuisisi sumber daya, analisis dan sintesis, presentasi, dan publikasi.

Penaksiran
Selain menilai hasil mengajar dan mahasiswa, lembaga terus harus menilai efektivitas teknologi untuk pembelajaran sepanjang Guru seluruh persiapan lingkungan. Data yang diperoleh dari ini terus menerus Penilaian akan:
         menginformasikan strategi pembelajaran yang digunakan,
·         memastikan bahwa visi untuk teknologi penggunaan mempertahankan sesuai arah,
         menunjukkan masalah potensial, dan
·         menyediakan data untuk mengubah kebijakan dan strategi instruksional atau untuk memperoleh sumber daya.
Perubahan yang dilakukan dari waktu ke waktu karena inovasi teknologi akan memberikan contoh informasi pengambilan keputusan.

Dukungan Masyarakat
Proses visi meliputi masyarakat dan mitra sekolah yang memberikan keahlian, dukungan, dan sumber daya untuk implementasi teknologi. Masyarakat harus melihat bahwa teknologi adalah alat yang berharga untuk calon guru dan mereka siswa, dan harus bersedia untuk mendukung dalam proses politik dari ruang rapat ke rumah negara.

Dukungan Kebijakan
Kebijakan dapat mendukung atau menghambat penerapan teknologi. Sebagai keputusan pembuat mengembangkan kebijakan baru, mereka harus mempertimbangkan bagaimana kebijakan mempengaruhi akuisisi dan akses ke teknologi. Beberapa hambatan utama penggunaan teknologi berhubungan dengan harapan fakultas tentang insentif dan struktur penghargaan. Itu harapan untuk penggunaan teknologi harus melintasi semua bidang subjek dan Guru konteks persiapan sehingga fakultas dan guru calon yakin bahwa pekerjaan mereka akan dihargai.
Kebijakan yang berkaitan dengan bantuan teknis juga harus mendukung penggunaan teknologi bukan menghalanginya. Sebagai contoh, meskipun firewall penting dalam lingkungan universitas, ada cara untuk menyediakan akses dial-up dan remote sementara menjaga keamanan server kampus. Demikian pula, di tingkat sekolah, ada cara untuk mengontrol akses internet siswa untuk gambar yang tidak diinginkan dan informasi tetap menjaga lingkungan eksplorasi dan penyelidikan. Untuk mengembangkan lingkungan dilengkapi untuk mendukung infus TIK dalam pendidikan guru, kondisi penting diidentifikasi pada Tabel 4.2 harus hadir dalam setiap fase dari sebuah guru calon itu pendidikan program umum universitas pendidikan, spesialisasi subjek yang dipilih, dalam kursus pendidikan guru, dan pada sekolah situs hosting guru siswa dan magang. Guru dan pendidik guru tidak dapat diharapkan untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari tentang penggunaan efektif TIK tanpa kehadiran kondisi penting dalam lingkungan kerja mereka. Lingkungan berikut ini sesuai dengan tahap perkembangan umum dialami selama persiapan universitas:
         Umum Persiapan jenderal program universitas yang menyediakan instruksi dalam kursus dasar bagi semua siswa dan kursus tertentu di lapangan utama siswa studi
         Profesional Persiapan formal kursus dalam pendidikan profesional
         Mahasiswa Pengajaran / Magang-diawasi, pengalaman lapangan diperpanjang di P-12 kelas
         Pertama-Tahun Pengajaran-tahun awal P-12 kelas pengajaran
Pengakuan kondisi penting yang diperlukan di semua lingkungan yang berkontribusi terhadap persiapan guru menggarisbawahi tanggung jawab bersama
untuk mempersiapkan guru baru. Universitas, unit pendidikan guru, dan P- 12 pendidikan harus mengadvokasi sumber daya yang memenuhi persyaratan penting untuk masing-masing penting tahap pengembangan guru.

Benchmarks dan Self-Assessment Tools untuk TIK dalam Pendidikan Guru
Dalam merencanakan integrasi TIK dalam pendidikan guru, penting untuk guru lembaga pendidikan untuk memahami pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi guru untuk secara efektif menggunakan TIK dalam pembelajaran mereka. Mereka juga harus memahami tingkat lembaga kesiapan untuk mengintegrasikan teknologi ke guru kurikulum pendidikan. Untuk mencapai tujuan ini mensyaratkan bahwa pendidikan guru lembaga memahami benchmark, standar, dan pedoman untuk TIK dalam pendidikan guru. Hal ini juga penting bahwa mereka memiliki akses ke alat-alat yang membantu mereka menilai tingkat kesiapan dan kemajuan dalam TIK menanamkan ke guru program pendidikan. Bagian VI menyediakan daftar sumber daya yang dapat membantu dalam menilai sejauh mana kondisi penting saat ini dipenuhi dan untuk memantau kemajuan masa depan dalam memenuhi kondisi tersebut.

REFERENSI
International Society for Technology dalam Pendidikan. 2002. Nasional Pendidikan Teknologi
Standar untuk Guru: Mempersiapkan Guru Menggunakan Teknologi. Eugene, OR: ISTE.
International Society for Technology dalam Pendidikan. 2001. Nasional Pendidikan Teknologi

KRITIK :
JUDUL     : INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGIES IN TEACHER EDUCATION

PENULIS   : John Daniel (Assistant Director-General for Education)

  1. Dari segi isi :
-          Secara umum buku ini telah baik dan layak dibaca. Buku ini dilengkapi dengan referensi setiap bab dan glosari yang lengkap.kemudian dilengkapi dengan figure-figur yang menjadi penguat dalam buku ini.
-          Secara Khusus Bab IV, telah memaparkan komponen-komponen penting dalam strategi pembelajaran berbasis ICT. Namun masih kurang penjelasan dan penjabaran komponen-komponen tersebut, antara lain Visi Bersama, Pengaksesan/teknologi, Pendidik harus Terampil, Pengembangan Profesional, Bantuan Teknis, Standar Isi dan Sumber Daya Kurikulum, Siswa-Centred Pengajaran, Penaksiran, Dukungan Masyarakat, Dukungan Kebijakan, Benchmarks dan Self-Assessment Tools untuk TIK dalam Pendidikan Guru
-          Pada bab ini juga banyak mengulas tentang hal-hal apa yang dilakukan oleh guru dalam membuat./menyusun suatu strategi pembelajaran yang mengimplementasikan TIK dalam pembelajarannya yaitu terlebih dahulu menganalisis kebutuhan siswa.
  1. Dari segi Desain :
-          Cukup baik karena memperjelas dengan adanya tabel-tabel yang untuk mempermudah untuk memahami isi daripada bab IV ini, namun terdapat kekurangan dalam desain bab ini yaitu ada judul sub bab yang tidak diberi notasi atau penomoran sehingga pembaca kadang bingung bagian-bagian mana yang saling berkaitan.