BELAJARKU
Blog ini kupersembahkan bagi setiap insan yang peduli terhadap perkembangan pendidikan
Selasa, 19 Agustus 2014
Selasa, 24 September 2013
SOAL UH1
SOAL ULANGAN HARIAN 1
KELAS IX
SMP NEGERI 1 SILAU LAUT
BY: TUMBUR SIMANGUNSONG
Jawablah pertanyaan berikut ini dan jawabannya kirimkan ke email saya di stumbur@yahoo.com
| Perbuatlah hal-hal yang baik bagi sekelilingmu!!! |
- Jelaskan proses pembuatan urine.
- Gambar dan jelaskan sistem ekskresi pada kulit.
- Hati dapat berfungsi sebagai alat sekresi dan ekskresi. Apa perbedaan sekresi dan ekskresi pada hati?
- Tuliskan penyakit yang terjadi di hati dan bagaimana cara pencegahannya.
- Kita sering mendengar orang terkena sakit ginjal, seperti batu ginjal, gagal ginjal, dan radang ginjal. Bagaimana cara mengatasi dan mencegah penyakitpenyakit tersebut?
- Sebutkan fungsi plasenta.
- Jelaskan proses spermatogenesis pada laki-laki.
- Apa yang dimaksud dengan ovulasi? Tulis jawaban pertanyaan di bawah ini di buku kerjamu.
- Apa yang kamu lakukan jika di sekitar tempat tinggalmu ada orang yang mengidap AIDS?
- Jelaskan cara pencegahan terhadap virus HIV.
"GOOD LUCK"
Selasa, 22 Januari 2013
UAS
UJIAN AKHIR SEMESTER .
TAHUN 2012
Nama : Tumbur
Simangunsong
Mata Kuliah : Perencanaan Pendidikan
dan Pelatihan
Program Studi : Teknologi Pendidikan
Fakultas :
PASCASARJANA UNIMED
Dosen : l. Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd
2. Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd
Jawaban :
1.
Apakah
perencanan pelatihan diawali dengan analisis kebutuhan pelatihan? Kalau
ya bagaimana analisis kebutuhan pelatihan tersebut dilakukan. Kalau
tidak apa komentar anda.
Jawab : TIDAK, kebanyakan lembaga diklat di lingkungan Kementerian
Pendidikan belum melakukan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif,
salah satunya di Kantor Dinas Pendidikan. Hal ini terlihat dari kurangnya minat
pegawai untuk mengikuti diklat, sehingga berdampak pada hasil dari program pelatihan, bahkan setiap kegiatan
pelatihan selalu tidak berjalan sesuai program. Ini menjadi catatan bagi
lembaga/instansi penyelenggara pendidikan dan pelatihan supaya kegiatan
analisis kebutuhan dijadikan rujukan bahkan patokan bagi penyelenggara dalam
menyusun dan melaksanakan program pelatihan, sehingga program pelatihan yang
dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran.
Implementasi
program Training tidak sepenuhnya dilakukan berdasarkan Training Plan, tapi
dilakukan atas dorongan situasi tertentu yang biasanya berdasarkan
permintaan dan keinginan dari pihka-pihak tertentu (want), dan bukan
berdasarkan kebutuhan (Needs)
Pada umumnya analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah masih sebatas mencari data dan informasi pegawai yang berminat mengikuti pelatihan, belum melaksanakan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, yang sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang maksimal, pelaksanaan analisis kebutuhan harus berdasarkan konsep/teori
Pada umumnya analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah masih sebatas mencari data dan informasi pegawai yang berminat mengikuti pelatihan, belum melaksanakan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, yang sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang maksimal, pelaksanaan analisis kebutuhan harus berdasarkan konsep/teori
Analisis
kebutuhan pelatihan (training need analysis) merupakan langkah awal dari
fungsi perencanaan dalam manajemen pelatihan untuk menentukan kebutuhan
pelatihan yang dirasakan perlu dan mendesak oleh suatu lembaga/instansi.
Apabila proses penentuan kebutuhan pelatihan dilakukan dengan cermat dan
detail, maka program pelatihan akan berjalan dengan baik dan tujuan pelatihan
dapat tercapai seperti yang diharapkan. Analisis kebutuhan pelatihan (training
need analysis) direncanakan dan dilaksanakan untuk memperoleh sejumlah data
atau informasi tentang kondisi dan kebutuhan pegawai dalam melaksanakan
tugasnya. Analisis kebutuhan membantu organisasi maupun individu dalam mencari
solusi masalah untuk meningkatkan kinerja. Oleh karena itu analisis kebutuhan
pelatihan yang dilakukan sebelum pelaksanaan pelatihan haruslah melibatkan tiga
kegiatan analisis yaitu analisis organisasi, analisis kinerja dan analisis
individu.
Analisis kebutuhan pelatihan merupakan aktivitas ilmiah untuk
mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat kompetensi pegawai demi
mencapai tujuan (goals and objectives) yang mengarah pada peningkatan kinerja
pegawai. Analisis kebutuhan pelatihan dilakukan sebelum program pelatihan
dirancang. Analisis kebutuhan pelatihan adalah suatu investigasi sistematis
mengenai deskrepansi kinerja untuk menggambarkan kesenjangan, menetapkan
mengapa itu terjadi, dan memutuskan apakah pelatihan merupakan solusi potensial
2.
Aspek-aspek
apakah yang dilakukan berkaitan dengan perencanaan pelatihan? Teknik perencanaan
yang seperti apa yang diterapkan? Apa komentar anda
Jawab :
- Aspek analisis kebutuhan pelatihan.
Tahapan awal
program pelatihan adalah mengadakan analisis kebutuhan (needs assessment)
secara komperhensif yang berkaitan dengan strategi bisnis. Informasi yang
dihasilkan analisis tersebut diantaranya dapat digunakan untuk menyusun
kurikulum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari observasi yang telah
dilakukan ditemukan bahwa banyak lembaga yang sudah melakukan analisis
kebutuhan gagal mengkaitkannya dengan rencana strategi . Hal ini mengartikan
bahwa pada tahapan awal sebagai fondasi program pelatihan perusahaan gagal
memperoleh informasi yang relevan. Dengan demikian terdapat semacam celah (gap)
antara isi (content) program dengan kebutuhan (needs) perusahaan
sesuai dengan rencana strategisnya.
3. Berkaitan dengan
pelaksanaan pelatihan, aspek-aspek apakah yang perlu dipantau (dimonitor) dan
dengan teknik apa monitoring dilakukan. Apa komentar anda.
Jawab:
a.
Aspek teknis pelaksanaan program /penggunaan metode pelatihan.
Sering kali
pelatihan ditawarkan pada karyawan tidak dalam pola just-in-time.
Kebanyakan pelatihan dilakukan secara classroom-based dimana karyawan
dijadwal ke dalam sesi one-day atau multiple-day. Metode
pelatihan seperti ini diyakini menghasilkan celah meluas antara saat karyawan
mengikuti pelatihan dan saat mereka mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat
kerja. sebagai contoh misalnya pelatihan tentang total quality management (TQM).
Karena terlalu sering mengikuti pelatihan TQM tanpa diikuti rencana atau tindak
lanjut bagaimana mereka dapat mengaplikasikan SKA baru di tempat kerja, yang
terjadi malahan adalah degradasi pembelajaran (learning degradation)
bahkan penolakan serta keengganan karyawan. Mereka merasa dengan pelatihan tersebut
tidak membawa manfaat hanya karena metode pelaksanaan yang tidak mendorong
karyawan segera mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat kerjanya.
b.
Aspek course content yang tidak sesuai
dengan kebutuhan individu atau unit kerja.
Manajer lini sangat jarang
terlibat dalam perancangan pelatihan atau dalam menyelesaikan pelatihan
terhadap persyaratan spesifik individu atau unit
kerja. Akibatnya adalah sedikit manajer yang melihat pelatihan secara efektif
dalam mengatasi masalah-masalah pekerjaan atau dalam memperbaiki kinerja
karyawan. Dulworth & Shea menemukan fakta bahwa dalam analisis
kebutuhan untuk pelatihan suatu perusahaan content pelatihan yang
disusun tidak disesuaikan dengan individu atau unit kerja yang akan dilatih.
Sebagai contohnya dalam salah satu sesi pelatihan untuk traders yang
mensyaratkan pengetahuan rinci tentang subjek tertentu memperoleh content pelatihan
sama dengan posisi sebagai akuntan yang hanya membutuhkan basic
understanding tentang konsep keuangan.
c.
Aspek program
pelatihan berkaitan dengan metode penyampaiannya (training delivery methods)
yang bersifat statis dan biasanya hanya menggunakan satu metode yaitu classroom
instruction. Guna memenuhi persyaratan waktu dan biaya untuk pelatihan
berbasis kelas, banyak manajer yang akhirnya enggan menilaipelatihan sebagai
suatu kegiatan positif bagi karyawan mereka. Sayangnya dengan metode pelatihan
kelas sejauh ini merupakan pilihan yang paling popular dalam penggunaanya.
Popularitas ini memiliki alas an yang mendasar yaitu adanya keyakinan bahwa classroom
delivery method mampu menghasilkan greatest skill and knowledge
enhancement.
d.
aspek fakta yang
menunjukan bahwa dampak (impact) pelatihan baik bagi individu maupun
organisasi tidak diukur dengan cara yang sistematis. Acap dilupakan bahwa hasil
pelnelitian memiliki dampak terukur (measurable) pada empat tingkatan
yaitu reaksi (rection), pembelajaran (learning), perilaku (behavior),
dan hasil (result). Studi Dulworth & Shea menunjukan bahwa
banyak organisasi hanya mengukur salah satu tingkatan yaitu reaksi, sementara
tiga tingkatan lainnya diabaikan. Pengabaian ini pada akhirnya mengarah pada a
lack of hard data, dimana perusahaan tidak memiliki informasi konferhensif
tentang hasil pelatihan secara toatal. Hal ini tentu saja menyebabkan perusahaan
mengalami kesulitan untuk mengajukan bagaimana efektifitas pelatihan dapat
diketahui baik pada individual maupun organisasional.
e.
Aspek sarana pendukung (job
aids)
untuk membantu karyawan untuk mengaplikasikan apa yang telah
dipelajarinya dari pelatihan tidak secara berkala diberikan. Kebanyakan manajer
pelatihan hanya berpikir bagaimana ilmu pengetahuan dapat ditransformasikan
secara efektif, sementara petunjuk bagaimana ilmu tersebut diterapakan banyak
diabaikan. Sebagian besar dari mereka hanya mengasumsikan bahwa transfer ilmu
pengetahuan sudah cukup bagi karyawan untuk memperbaiki kinerja sedangkan jika
persoalan di luar pelaksanaan pelatihan bukan tanggung jawab mereka.
4.
Berkaitan dengan evaluasi program pelatihan,
aspek-aspek apakah yang perlu dievaluasi dan bagaimana teknik evaluasi program
dilakukan. Apa komentar anda
ü KONTEKS
ü INPUT
ü PROSES IMPLEMENTASI
ü PRODUK
5.
Berkaitan dengan evalusi program pelatihan, untuk menilai
aspek-aspek
yang diperlukan, model evaluasi apakah yang digunakan ?
SELAMAT BEKERJA
Senin, 17 Desember 2012
RENCANA JUDUL TESIS
- Perancangan Dan Implementasi Interactive E-Learning Menggunakan Video Mata Pelajaran Ipa SMP
- Hubungan Antara Kedisiplinan Dan Pelatihan Dengan Kinerja Guru SMP se-Kabupaten Asahan
- Kontribusi Supervisi Pengawas Sekolah Dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Guru Pada SMP Negeri Se-Kabupaten Asahan
Chapter Review
CHAPTER REVIEW
Oleh : Tumbur Simangunsong
Chapter
IV.
KOMPONEN
PENTING
PENGARUH TIK DALAM
PENGEMBANGAN GURU
Ketika sebuah
universitas, guru satuan pendidikan, negara, wilayah atau negara mengadopsi
atau menyesuaikan satu set standar untuk menentukan bagaimana teknologi akan
ditanamkan sepanjang program mereka, menjadi sangat penting bahwa upaya fakultas
dalam perencanaan program pendidikan guru termasuk di dalamnya. Fakultas akan
merencanakan TIK dalam pengembangan guru dengan mempertimbangkan kondisi mereka
sendiri, budaya, dan konteks. Selama ini kolaboratif tahap perencanaan, unit
pendidikan guru dan unit universitas lain yang menyediakan kursus untuk
pre-service guru (yaitu calon guru) harus mengembangkan rencana yang tidak
hanya menangani empat komponen kunci dalam kerangka kerja, tetapi juga elemen
yang mendukung implementasi jangka panjang dari kepemimpinan komponen-key dan
visi, konteks dan budaya, perencanaan dan manajemen perubahan, dan seumur hidup
belajar. Unsur-unsur yang diperlukan untuk lingkungan yang mendukung dan
sukses, mandiri implementasi teknologi dalam infus guru program pendidikan.
Pengalaman telah
menunjukkan bahwa beberapa kondisi penting harus dipenuhi untuk berhasil
mengintegrasikan TIK ke dalam program pendidikan guru. Sebagai pendidikan entitas
telah menerapkan TIK dalam pendidikan guru peneliti, dan evaluator memiliki
hambatan yang teridentifikasi yang mencegah atau membatasi infus teknologi
sukses. Guru pendidik mengekspresikan frustrasi dengan menyatakan, "Saya
mengalami masalah menerapkan rencana kami untuk infus TIK karena ...
"Pernyataan seperti ini sering diselesaikan oleh satu atau lebih kondisi
yang cukup umum di kalangan pendidikan guru institusi di seluruh dunia. ISTE
telah menyusun daftar yang paling umum diperlukan untuk menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif untuk kuat dikutip kondisi menggunakan teknologi.
Ketika merencanakan
untuk implementasi TIK dalam pendidikan guru, perencanaan Tim harus
mempertimbangkan setiap kondisi penting dan perhatikan apakah, dan untuk sejauh
mana, itu hadir. Konteks, budaya, dan tingkat kolaborasi
antara para pemangku kepentingan
akan mempengaruhi seberapa memadai kondisi terpenuhi dan menentukan apa jenis
strategi mungkin meminta dukungan jika kondisi esensial saat ini tidak hadir. Masing-masing
kondisi diperiksa di bagian ini.
Bersama
Vision
Didefinisikan sebagai
adanya kepemimpinan proaktif dan dukungan administrasi, visi bersama berarti
bahwa komitmen untuk teknologi sistemik. Dari administrasi kepada personil
alasan, ada pemahaman, komitmen untuk, dan rasa advokasi untuk implementasi
teknologi. Ketika pelaksanaan inisiatif teknologi bermasalah, alasan utama yang
sering dikutip gangguan dalam pemahaman umum tujuan lembaga di antara mereka
yang memegang kekuasaan pengambilan keputusan. Situasi ini dapat terjadi atas
sesuatu yang sederhana seperti membuka pintu ke laboratorium, atau serumit
memodifikasi ada anggaran operasional untuk menyediakan alokasi dana untuk
teknologi. Memfasilitasi integrasi teknologi mungkin memerlukan perubahan dalam
kebijakan atau aturan, dan pengambil keputusan harus bersedia untuk melihat
situasi, menempa kompromi bila diperlukan, dan memastikan komunikasi di antara
semua pihak. Itu lingkungan kolaboratif yang diperlukan untuk menciptakan visi
bersama juga diperlukan untuk mempertahankan visi tersebut.
Mengakses
Fakta bahwa pendidik
perlu akses ke teknologi saat ini, perangkat lunak, dan jaringan telekomunikasi
tampak sederhana. Namun, akses ini harus konsisten di semua lingkungan yang
merupakan bagian dari persiapan guru. Program pendidikan guru yang paling
melibatkan beberapa entitas, termasuk setidaknya perguruan tinggi atau
universitas dan satu atau lebih sekolah di kisaran 12-P. Akses ke pendanaan dan
sumber daya lainnya dapat sangat bervariasi di antara mitra, namun idealnya, akses
harus memadai dan konsisten sepanjang pengalaman pendidikan siswa dalam proses
menjadi guru. Kemitraan kreatif sering diperlukan untuk membuat hal ini
terjadi.
Selain itu, perlu ada
akses ke teknologi yang sesuai dengan subjek daerah sedang dipelajari, seperti
program pengolah kata dan akses internet dalam bahasa Inggris, atau
laboratorium komputer dan mikroskop untuk laboratorium sains. Akses harus dalam
kelas serta pengaturan laboratorium, dan ketentuan harus dibuat untuk populasi
khusus. Teknologi ini harus dapat diakses segera ketika itu adalah yang terbaik
rute ke informasi atau alat-alat yang dibutuhkan oleh pre-service guru, guru,
dan siswa. Selain itu, ruang kelas model universitas penting untuk menentukan teknologi
cara harus digunakan dalam lingkungan-12 P. Harus ada menjadi stasiun
instruktur dengan sistem presentasi dan 4-6 stasiun untuk pra-layanan guru.
Para calon guru perlu melihat dan mengalami model yang menunjukkan jenis akses
yang diinginkan di dalam kelas.
Selain akses ICT di
kursus mereka, pre-service guru harus memiliki akses teknologi dalam lingkungan
pengajaran mereka mahasiswa dan dalam kelas mereka pada tahun induksi dan
seterusnya. Jika tidak, peluang untuk menggunakan teknologi alat untuk mengajar
siswa atau alat komunikasi untuk mentoring atau tetap terhubung dengan orang
tua akan terbatas.
Pendidik
Terampil
Para pendidik yang
bekerja dengan calon guru harus terampil dalam penggunaan teknologi untuk
belajar. Mereka harus mampu menerapkan teknologi dalam presentasi dan administrasi
kursus mereka dan memfasilitasi penggunaan yang tepat dari teknologi dengan mereka
guru calon. Dari kursus pertama diambil oleh mahasiswa, melalui kolaboratif bekerja
di lokasi sekolah, pre-service guru harus berpartisipasi dengan dan mengamati mereka
mentor menggunakan teknologi secara efektif. Para pendidik guru harus memberi
contoh dan mengajarkan teknik untuk mengelola teknologi di kelas dan untuk
berkomunikasi di luar kelas melalui sarana elektronik.
Pengembangan
Profesional
Bahkan dalam konteks di
mana pengembangan profesional yang luas, penting untuk menyediakan akses yang
konsisten untuk pengembangan profesional sebagai teknologi terus-menerus perubahan.
Peluang berkelanjutan untuk pengembangan profesional harus tersedia untuk
fakultas universitas dan P-12 dan administrator yang berpartisipasi dalam persiapan
guru. Tempat dan mekanisme pengiriman harus memperhitungkan pertimbangan
masalah waktu, lokasi, jarak, pilihan kredit, dan sebagainya. Pengembangan
profesional bukanlah peristiwa satu kali itu harus difokuskan pada kebutuhan
dosen, guru, atau administrator dan dipertahankan melalui pembinaan dan update
secara berkala.
Bantuan
Teknis
Pendidik perlu bantuan
teknis untuk menggunakan dan memelihara teknologi. Fokus dari dosen, guru, dan
guru pre-service harus pada pengajaran dan pembelajaran, bukan pada
pemeliharaan dan perbaikan teknologi di luar prosedur pemecahan masalah dasar. Ketika
teknologi tidak berfungsi dengan baik, kesempatan belajar hilang dan frustrasi
fakultas tumbuh. Bantuan teknis yang tepat waktu sangat penting bagi fakultas
dan calon merasa yakin bahwa mereka dapat menggunakan teknologi dalam
pengajaran dan pembelajaran. Ada banyak cara bantuan teknis dapat diperoleh,
termasuk meminta masyarakat anggota atau asisten mahasiswa untuk mempertahankan
help desk. Ini merupakan faktor penting untuk Keberhasilan dalam menerapkan
TIK.
Standar
Isi dan Sumber Daya Kurikulum
Pendidik harus
berpengetahuan dalam isi, standar, dan pengajaran metodologi disiplin ilmu
mereka. Calon guru harus belajar untuk menggunakan teknologi nology di kuat, cara yang berarti dalam
konteks isi pengajaran. Teknologi membawa sumber daya yang relevan dari dunia
nyata untuk konten mata pelajaran, menyediakan alat untuk menganalisis dan mensintesis
data, dan menyampaikan konten melalui berbagai media dan format. Pra-service
guru harus belajar untuk menggunakan teknologi dengan cara yang memenuhi
standar isi dan standar teknologi bagi siswa dan guru.
Siswa-Centred
Pengajaran
Mengajar harus mencakup
pendekatan yang berpusat pada siswa untuk belajar. Teknologi tidak boleh
digunakan hanya sebagai alat untuk demonstrasi, sebagai elektronik overhead
projector atau papan, melainkan penggunaan teknologi oleh siswa harus menjadi
bagian integral dari instruksi. Dalam pendekatan yang berpusat pada siswa untuk
belajar, siswa menjadi sumber masalah diselidiki. Mahasiswa dan calon guru harus
memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi masalah, mengumpulkan dan
menganalisis data, menggambar kesimpulan, dan menyampaikan hasil menggunakan
alat elektronik untuk menyelesaikan tugas ini. Fakultas harus model penggunaan
TIK untuk menunjukkan kegunaannya dan kesesuaian untuk kolaborasi, akuisisi
sumber daya, analisis dan sintesis, presentasi, dan publikasi.
Penaksiran
Selain menilai hasil mengajar dan
mahasiswa, lembaga terus harus menilai efektivitas teknologi untuk pembelajaran
sepanjang Guru seluruh persiapan lingkungan. Data yang diperoleh dari ini terus
menerus Penilaian akan:
•
menginformasikan
strategi pembelajaran yang digunakan,
·
memastikan bahwa visi
untuk teknologi penggunaan mempertahankan sesuai arah,
•
menunjukkan masalah
potensial, dan
·
menyediakan data untuk
mengubah kebijakan dan strategi instruksional atau untuk memperoleh sumber
daya.
Perubahan yang dilakukan dari waktu
ke waktu karena inovasi teknologi akan memberikan contoh informasi pengambilan
keputusan.
Dukungan
Masyarakat
Proses visi meliputi
masyarakat dan mitra sekolah yang memberikan keahlian, dukungan, dan sumber
daya untuk implementasi teknologi. Masyarakat harus melihat bahwa teknologi
adalah alat yang berharga untuk calon guru dan mereka siswa, dan harus bersedia
untuk mendukung dalam proses politik dari ruang rapat ke rumah negara.
Dukungan
Kebijakan
Kebijakan dapat
mendukung atau menghambat penerapan teknologi. Sebagai keputusan pembuat
mengembangkan kebijakan baru, mereka harus mempertimbangkan bagaimana kebijakan
mempengaruhi akuisisi dan akses ke teknologi. Beberapa hambatan utama
penggunaan teknologi berhubungan dengan harapan fakultas tentang insentif dan
struktur penghargaan. Itu harapan untuk penggunaan teknologi harus melintasi
semua bidang subjek dan Guru konteks persiapan sehingga fakultas dan guru calon
yakin bahwa pekerjaan mereka akan dihargai.
Kebijakan yang
berkaitan dengan bantuan teknis juga harus mendukung penggunaan teknologi bukan
menghalanginya. Sebagai contoh, meskipun firewall penting dalam lingkungan
universitas, ada cara untuk menyediakan akses dial-up dan remote sementara
menjaga keamanan server kampus. Demikian pula, di tingkat sekolah, ada cara
untuk mengontrol akses internet siswa untuk gambar yang tidak diinginkan dan
informasi tetap menjaga lingkungan eksplorasi dan penyelidikan. Untuk
mengembangkan lingkungan dilengkapi untuk mendukung infus TIK dalam pendidikan
guru, kondisi penting diidentifikasi pada Tabel 4.2 harus hadir dalam setiap
fase dari sebuah guru calon itu pendidikan program umum universitas pendidikan,
spesialisasi subjek yang dipilih, dalam kursus pendidikan guru, dan pada sekolah
situs hosting guru siswa dan magang. Guru dan pendidik guru tidak dapat
diharapkan untuk menerapkan apa yang telah mereka pelajari tentang penggunaan
efektif TIK tanpa kehadiran kondisi penting dalam lingkungan kerja mereka. Lingkungan
berikut ini sesuai dengan tahap perkembangan umum dialami selama persiapan
universitas:
•
Umum Persiapan jenderal
program universitas yang menyediakan instruksi dalam kursus dasar bagi semua
siswa dan kursus tertentu di lapangan utama siswa studi
•
Profesional Persiapan
formal kursus dalam pendidikan profesional
•
Mahasiswa Pengajaran /
Magang-diawasi, pengalaman lapangan diperpanjang di P-12 kelas
•
Pertama-Tahun
Pengajaran-tahun awal P-12 kelas pengajaran
Pengakuan kondisi penting yang
diperlukan di semua lingkungan yang berkontribusi terhadap persiapan guru
menggarisbawahi tanggung jawab bersama
untuk mempersiapkan guru baru.
Universitas, unit pendidikan guru, dan P- 12 pendidikan harus mengadvokasi
sumber daya yang memenuhi persyaratan penting untuk masing-masing penting tahap
pengembangan guru.
Benchmarks
dan Self-Assessment Tools untuk TIK dalam Pendidikan Guru
Dalam merencanakan
integrasi TIK dalam pendidikan guru, penting untuk guru lembaga pendidikan
untuk memahami pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan bagi guru untuk
secara efektif menggunakan TIK dalam pembelajaran mereka. Mereka juga harus
memahami tingkat lembaga kesiapan untuk mengintegrasikan teknologi ke guru kurikulum
pendidikan. Untuk mencapai tujuan ini mensyaratkan bahwa pendidikan guru lembaga
memahami benchmark, standar, dan pedoman untuk TIK dalam pendidikan guru. Hal
ini juga penting bahwa mereka memiliki akses ke alat-alat yang membantu mereka
menilai tingkat kesiapan dan kemajuan dalam TIK menanamkan ke guru program
pendidikan. Bagian VI menyediakan daftar sumber daya yang dapat membantu dalam
menilai sejauh mana kondisi penting saat ini dipenuhi dan untuk memantau
kemajuan masa depan dalam memenuhi kondisi tersebut.
REFERENSI
International Society for Technology
dalam Pendidikan. 2002. Nasional Pendidikan Teknologi
Standar untuk Guru: Mempersiapkan Guru
Menggunakan Teknologi. Eugene, OR: ISTE.
International Society for Technology
dalam Pendidikan. 2001. Nasional Pendidikan Teknologi
KRITIK
:
JUDUL : INFORMATION AND COMMUNICATION TECHNOLOGIES IN TEACHER EDUCATION
PENULIS : John
Daniel (Assistant
Director-General for Education)
- Dari segi isi :
-
Secara umum buku ini
telah baik dan layak dibaca. Buku ini dilengkapi dengan referensi setiap bab
dan glosari yang lengkap.kemudian dilengkapi dengan figure-figur yang menjadi
penguat dalam buku ini.
-
Secara Khusus Bab IV,
telah memaparkan komponen-komponen penting dalam strategi pembelajaran berbasis
ICT. Namun masih kurang penjelasan dan penjabaran komponen-komponen tersebut,
antara lain Visi Bersama, Pengaksesan/teknologi, Pendidik harus Terampil,
Pengembangan Profesional, Bantuan Teknis, Standar Isi dan Sumber Daya
Kurikulum, Siswa-Centred Pengajaran, Penaksiran, Dukungan Masyarakat, Dukungan
Kebijakan, Benchmarks dan Self-Assessment Tools untuk TIK dalam Pendidikan Guru
-
Pada bab ini juga
banyak mengulas tentang hal-hal apa yang dilakukan oleh guru dalam
membuat./menyusun suatu strategi pembelajaran yang mengimplementasikan TIK
dalam pembelajarannya yaitu terlebih dahulu menganalisis kebutuhan siswa.
- Dari segi Desain :
-
Cukup baik karena
memperjelas dengan adanya tabel-tabel yang untuk mempermudah untuk memahami isi
daripada bab IV ini, namun terdapat kekurangan dalam desain bab ini yaitu ada
judul sub bab yang tidak diberi notasi atau penomoran sehingga pembaca kadang
bingung bagian-bagian mana yang saling berkaitan.
Langganan:
Komentar (Atom)
