UJIAN AKHIR SEMESTER .
TAHUN 2012
Nama : Tumbur
Simangunsong
Mata Kuliah : Perencanaan Pendidikan
dan Pelatihan
Program Studi : Teknologi Pendidikan
Fakultas :
PASCASARJANA UNIMED
Dosen : l. Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd
2. Prof. Dr. Efendi Napitupulu, M.Pd
Jawaban :
1.
Apakah
perencanan pelatihan diawali dengan analisis kebutuhan pelatihan? Kalau
ya bagaimana analisis kebutuhan pelatihan tersebut dilakukan. Kalau
tidak apa komentar anda.
Jawab : TIDAK, kebanyakan lembaga diklat di lingkungan Kementerian
Pendidikan belum melakukan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif,
salah satunya di Kantor Dinas Pendidikan. Hal ini terlihat dari kurangnya minat
pegawai untuk mengikuti diklat, sehingga berdampak pada hasil dari program pelatihan, bahkan setiap kegiatan
pelatihan selalu tidak berjalan sesuai program. Ini menjadi catatan bagi
lembaga/instansi penyelenggara pendidikan dan pelatihan supaya kegiatan
analisis kebutuhan dijadikan rujukan bahkan patokan bagi penyelenggara dalam
menyusun dan melaksanakan program pelatihan, sehingga program pelatihan yang
dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran.
Implementasi
program Training tidak sepenuhnya dilakukan berdasarkan Training Plan, tapi
dilakukan atas dorongan situasi tertentu yang biasanya berdasarkan
permintaan dan keinginan dari pihka-pihak tertentu (want), dan bukan
berdasarkan kebutuhan (Needs)
Pada umumnya analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah masih sebatas mencari data dan informasi pegawai yang berminat mengikuti pelatihan, belum melaksanakan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, yang sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang maksimal, pelaksanaan analisis kebutuhan harus berdasarkan konsep/teori
Pada umumnya analisis kebutuhan pelatihan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga diklat pemerintah masih sebatas mencari data dan informasi pegawai yang berminat mengikuti pelatihan, belum melaksanakan analisis kebutuhan pelatihan secara komprehensif, yang sesuai dengan konsep. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang maksimal, pelaksanaan analisis kebutuhan harus berdasarkan konsep/teori
Analisis
kebutuhan pelatihan (training need analysis) merupakan langkah awal dari
fungsi perencanaan dalam manajemen pelatihan untuk menentukan kebutuhan
pelatihan yang dirasakan perlu dan mendesak oleh suatu lembaga/instansi.
Apabila proses penentuan kebutuhan pelatihan dilakukan dengan cermat dan
detail, maka program pelatihan akan berjalan dengan baik dan tujuan pelatihan
dapat tercapai seperti yang diharapkan. Analisis kebutuhan pelatihan (training
need analysis) direncanakan dan dilaksanakan untuk memperoleh sejumlah data
atau informasi tentang kondisi dan kebutuhan pegawai dalam melaksanakan
tugasnya. Analisis kebutuhan membantu organisasi maupun individu dalam mencari
solusi masalah untuk meningkatkan kinerja. Oleh karena itu analisis kebutuhan
pelatihan yang dilakukan sebelum pelaksanaan pelatihan haruslah melibatkan tiga
kegiatan analisis yaitu analisis organisasi, analisis kinerja dan analisis
individu.
Analisis kebutuhan pelatihan merupakan aktivitas ilmiah untuk
mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat kompetensi pegawai demi
mencapai tujuan (goals and objectives) yang mengarah pada peningkatan kinerja
pegawai. Analisis kebutuhan pelatihan dilakukan sebelum program pelatihan
dirancang. Analisis kebutuhan pelatihan adalah suatu investigasi sistematis
mengenai deskrepansi kinerja untuk menggambarkan kesenjangan, menetapkan
mengapa itu terjadi, dan memutuskan apakah pelatihan merupakan solusi potensial
2.
Aspek-aspek
apakah yang dilakukan berkaitan dengan perencanaan pelatihan? Teknik perencanaan
yang seperti apa yang diterapkan? Apa komentar anda
Jawab :
- Aspek analisis kebutuhan pelatihan.
Tahapan awal
program pelatihan adalah mengadakan analisis kebutuhan (needs assessment)
secara komperhensif yang berkaitan dengan strategi bisnis. Informasi yang
dihasilkan analisis tersebut diantaranya dapat digunakan untuk menyusun
kurikulum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dari observasi yang telah
dilakukan ditemukan bahwa banyak lembaga yang sudah melakukan analisis
kebutuhan gagal mengkaitkannya dengan rencana strategi . Hal ini mengartikan
bahwa pada tahapan awal sebagai fondasi program pelatihan perusahaan gagal
memperoleh informasi yang relevan. Dengan demikian terdapat semacam celah (gap)
antara isi (content) program dengan kebutuhan (needs) perusahaan
sesuai dengan rencana strategisnya.
3. Berkaitan dengan
pelaksanaan pelatihan, aspek-aspek apakah yang perlu dipantau (dimonitor) dan
dengan teknik apa monitoring dilakukan. Apa komentar anda.
Jawab:
a.
Aspek teknis pelaksanaan program /penggunaan metode pelatihan.
Sering kali
pelatihan ditawarkan pada karyawan tidak dalam pola just-in-time.
Kebanyakan pelatihan dilakukan secara classroom-based dimana karyawan
dijadwal ke dalam sesi one-day atau multiple-day. Metode
pelatihan seperti ini diyakini menghasilkan celah meluas antara saat karyawan
mengikuti pelatihan dan saat mereka mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat
kerja. sebagai contoh misalnya pelatihan tentang total quality management (TQM).
Karena terlalu sering mengikuti pelatihan TQM tanpa diikuti rencana atau tindak
lanjut bagaimana mereka dapat mengaplikasikan SKA baru di tempat kerja, yang
terjadi malahan adalah degradasi pembelajaran (learning degradation)
bahkan penolakan serta keengganan karyawan. Mereka merasa dengan pelatihan tersebut
tidak membawa manfaat hanya karena metode pelaksanaan yang tidak mendorong
karyawan segera mengaplikasikan hasil pelatihan di tempat kerjanya.
b.
Aspek course content yang tidak sesuai
dengan kebutuhan individu atau unit kerja.
Manajer lini sangat jarang
terlibat dalam perancangan pelatihan atau dalam menyelesaikan pelatihan
terhadap persyaratan spesifik individu atau unit
kerja. Akibatnya adalah sedikit manajer yang melihat pelatihan secara efektif
dalam mengatasi masalah-masalah pekerjaan atau dalam memperbaiki kinerja
karyawan. Dulworth & Shea menemukan fakta bahwa dalam analisis
kebutuhan untuk pelatihan suatu perusahaan content pelatihan yang
disusun tidak disesuaikan dengan individu atau unit kerja yang akan dilatih.
Sebagai contohnya dalam salah satu sesi pelatihan untuk traders yang
mensyaratkan pengetahuan rinci tentang subjek tertentu memperoleh content pelatihan
sama dengan posisi sebagai akuntan yang hanya membutuhkan basic
understanding tentang konsep keuangan.
c.
Aspek program
pelatihan berkaitan dengan metode penyampaiannya (training delivery methods)
yang bersifat statis dan biasanya hanya menggunakan satu metode yaitu classroom
instruction. Guna memenuhi persyaratan waktu dan biaya untuk pelatihan
berbasis kelas, banyak manajer yang akhirnya enggan menilaipelatihan sebagai
suatu kegiatan positif bagi karyawan mereka. Sayangnya dengan metode pelatihan
kelas sejauh ini merupakan pilihan yang paling popular dalam penggunaanya.
Popularitas ini memiliki alas an yang mendasar yaitu adanya keyakinan bahwa classroom
delivery method mampu menghasilkan greatest skill and knowledge
enhancement.
d.
aspek fakta yang
menunjukan bahwa dampak (impact) pelatihan baik bagi individu maupun
organisasi tidak diukur dengan cara yang sistematis. Acap dilupakan bahwa hasil
pelnelitian memiliki dampak terukur (measurable) pada empat tingkatan
yaitu reaksi (rection), pembelajaran (learning), perilaku (behavior),
dan hasil (result). Studi Dulworth & Shea menunjukan bahwa
banyak organisasi hanya mengukur salah satu tingkatan yaitu reaksi, sementara
tiga tingkatan lainnya diabaikan. Pengabaian ini pada akhirnya mengarah pada a
lack of hard data, dimana perusahaan tidak memiliki informasi konferhensif
tentang hasil pelatihan secara toatal. Hal ini tentu saja menyebabkan perusahaan
mengalami kesulitan untuk mengajukan bagaimana efektifitas pelatihan dapat
diketahui baik pada individual maupun organisasional.
e.
Aspek sarana pendukung (job
aids)
untuk membantu karyawan untuk mengaplikasikan apa yang telah
dipelajarinya dari pelatihan tidak secara berkala diberikan. Kebanyakan manajer
pelatihan hanya berpikir bagaimana ilmu pengetahuan dapat ditransformasikan
secara efektif, sementara petunjuk bagaimana ilmu tersebut diterapakan banyak
diabaikan. Sebagian besar dari mereka hanya mengasumsikan bahwa transfer ilmu
pengetahuan sudah cukup bagi karyawan untuk memperbaiki kinerja sedangkan jika
persoalan di luar pelaksanaan pelatihan bukan tanggung jawab mereka.
4.
Berkaitan dengan evaluasi program pelatihan,
aspek-aspek apakah yang perlu dievaluasi dan bagaimana teknik evaluasi program
dilakukan. Apa komentar anda
ü KONTEKS
ü INPUT
ü PROSES IMPLEMENTASI
ü PRODUK
5.
Berkaitan dengan evalusi program pelatihan, untuk menilai
aspek-aspek
yang diperlukan, model evaluasi apakah yang digunakan ?
SELAMAT BEKERJA